![]() |
| Istimewa |
Judul
Buku : Cerita Pilu manusia
Kekinian
Penulis : Edi AH Iyubenu
Penerbit
: Diva Press
Cetakan : Februari 2016
Tebal : 264 halaman
ISBN : 978-602-0806-71-6
Kehidupan
dewasa ini telah mencapai titik paling krusial sepanjang zaman, dunia modern
terus menyuguhkan rutinitas setiap hari yang hampir menyita hidup manusia
kekinian. Jarang dan bahkan tak lagi kita temukan kehangatan antar keluarga,
apalagi teman. Bisa dibilang dunia modern telah menomorduakan sisi kemanusiaan
manusia dengan segala rutinitas, target, prestasi dan sederet angan yang semu
lainya.
Merenung
adalah laku memelihara niali-nilai kemanusiaan. Yang hilang dari kehidupan kita
ini bukanlah berkurangnya lembaga pendidikan agama maupun umum, ataupun bacaan,
tetapi pudarnya permenungan. Semua kita tak sempat kepada hal-hal yang disangka
tak memberikan keuntungan materi. Walhasil, hidup jadi hambar, garing, dan
pucat. Walhasil, kita pun merasa menderita.(hlm 6)
Buku ini
mendedahkan mengenai polah tingkah manusia kekinian, banyak sekali
kalimat-kalimat dalam buku ini, yang kebanyakan manusia atau bahkan kita
sendiri sadar atau tanpa sadar pernah mengucapkanya. Sangat menarik sebagai
bahan evaluasi, bercermin diri setelah sekian lama tak memandang dan
menelanjangi diri sendiri. Modernisme-materialisme telah menjadikan manusia
sebagai budak-budak spanengan-tegang, ngototan dan lain sebagainya maka
hiduplah selo. Kini coba kita hisab : berapa banyak orang yang telah
Anda sakiti di masa lalu (ma taqaddama min dzanbihi) dengan nyinyiran,
komenan, hingga share-an yang ngotot-spanengan? (hlm 33)
Dalam
buku ini dibagi menjadi dua bagian, satu membahas tentang renungan-renungan
islami dan di bagian kedua tentang renungan-renungan bersifat umum. Ada yang
menarik pada bagian pertama buku ini, yaitu tentang renungan-renungan Islami.
Edi AH Iyubenu menyentil keseharian kita, dalam judul Gerakan muslim
akun-akunan misalnya. Tidak sedikit sesama muslim hari ini yang saling
hujat-menghujat. Bila ia tahunya hijab syar’i adalah yang modelnya harus jubahan
macam pakaian orang Arab saja, ia pasti akan ekstrem pada muslimah lain yang
tidak sama dengan hijabnya. Lalu disesatin, dikafirin, dll. Padahal, ya, itu
hanya sebuah pandangan belaka. (hlm 60)
Kehangatan
keluarga
Hidup di
kota, tempat segala sesuatu hanya bisa dijangkau dengan uang dan uang, telah
memaksa kita untuk terus bergerak dan berlari ngepot. Sudah pasti hal
ini membuat hari-hari kita begitu melelahkan. Begitu cepat berkelebat. Bergegas.
Tergopoh. Tahu-tahu sudah sebulan, setahun, lima tahun, sedekade ; tahu-tahu
telah tua, tahu-tahu anak-anak telah remaja. (hlm 203)
Kehidupan
kekinian telah merenggut waktu-waktu kita dengan rutinitas yang menghamba pada
satu tujuan, materi. Sehingga tanpa sadar kita pun melewatkan banyak hal. Nalar
kita sepenuhnya mafhum bahwa hidup ini amat sepintas. Sangat sekelebat belaka.
Ironisnya, kelakuan kita lebih mendekat kepada penundaan dan peniadaan
silaturahmi : ah minggu depan juga masih bisa ; ah, ini jauh lebih penting
untuk dikerjakan ; ah, tawaran terbaik takkan pernah datang dua kali, jadi
mainnya lain kali saja ; ah, time is money! (hlm 206)
Ulasan-ulasan
perihal perilaku manusia kekinian dalam buku ini sudah sepantasnya dibaca oleh
siapapun, terutama mereka yang dibelenggu kesunyian dan kegersangan batin.
Bahasa yang digunakanpun sangat ringan dan memahamkan, hingga enak dikonsumsi
siapa pun. Tidak ada yang lebih baik dari pada merenung, untuk merubah laku
keseharian kita yang terus menerus menguapkan nilai-nilai kemanusiaan.
*Achmad Ulil Albab

0 komentar: