Minggu, 15 Januari 2017

Merawat Renungan Manusia Kekinian

Istimewa

Judul Buku : Cerita Pilu manusia Kekinian
Penulis         : Edi AH Iyubenu
Penerbit       : Diva Press
Cetakan       : Februari 2016
Tebal             : 264 halaman
ISBN              : 978-602-0806-71-6

Kehidupan dewasa ini telah mencapai titik paling krusial sepanjang zaman, dunia modern terus menyuguhkan rutinitas setiap hari yang hampir menyita hidup manusia kekinian. Jarang dan bahkan tak lagi kita temukan kehangatan antar keluarga, apalagi teman. Bisa dibilang dunia modern telah menomorduakan sisi kemanusiaan manusia dengan segala rutinitas, target, prestasi dan sederet angan yang semu lainya.
Merenung adalah laku memelihara niali-nilai kemanusiaan. Yang hilang dari kehidupan kita ini bukanlah berkurangnya lembaga pendidikan agama maupun umum, ataupun bacaan, tetapi pudarnya permenungan. Semua kita tak sempat kepada hal-hal yang disangka tak memberikan keuntungan materi. Walhasil, hidup jadi hambar, garing, dan pucat. Walhasil, kita pun merasa menderita.(hlm 6)
Buku ini mendedahkan mengenai polah tingkah manusia kekinian, banyak sekali kalimat-kalimat dalam buku ini, yang kebanyakan manusia atau bahkan kita sendiri sadar atau tanpa sadar pernah mengucapkanya. Sangat menarik sebagai bahan evaluasi, bercermin diri setelah sekian lama tak memandang dan menelanjangi diri sendiri. Modernisme-materialisme telah menjadikan manusia sebagai budak-budak spanengan-tegang, ngototan dan lain sebagainya maka hiduplah selo. Kini coba kita hisab : berapa banyak orang yang telah Anda sakiti di masa lalu (ma taqaddama min dzanbihi) dengan nyinyiran, komenan, hingga share-an yang ngotot-spanengan? (hlm 33)
Dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, satu membahas tentang renungan-renungan islami dan di bagian kedua tentang renungan-renungan bersifat umum. Ada yang menarik pada bagian pertama buku ini, yaitu tentang renungan-renungan Islami. Edi AH Iyubenu menyentil keseharian kita, dalam judul Gerakan muslim akun-akunan misalnya. Tidak sedikit sesama muslim hari ini yang saling hujat-menghujat. Bila ia tahunya hijab syar’i adalah yang modelnya harus jubahan macam pakaian orang Arab saja, ia pasti akan ekstrem pada muslimah lain yang tidak sama dengan hijabnya. Lalu disesatin, dikafirin, dll. Padahal, ya, itu hanya sebuah pandangan belaka. (hlm 60)
Kehangatan keluarga
Hidup di kota, tempat segala sesuatu hanya bisa dijangkau dengan uang dan uang, telah memaksa kita untuk terus bergerak dan berlari ngepot. Sudah pasti hal ini membuat hari-hari kita begitu melelahkan. Begitu cepat berkelebat. Bergegas. Tergopoh. Tahu-tahu sudah sebulan, setahun, lima tahun, sedekade ; tahu-tahu telah tua, tahu-tahu anak-anak telah remaja. (hlm 203)
Kehidupan kekinian telah merenggut waktu-waktu kita dengan rutinitas yang menghamba pada satu tujuan, materi. Sehingga tanpa sadar kita pun melewatkan banyak hal. Nalar kita sepenuhnya mafhum bahwa hidup ini amat sepintas. Sangat sekelebat belaka. Ironisnya, kelakuan kita lebih mendekat kepada penundaan dan peniadaan silaturahmi : ah minggu depan juga masih bisa ; ah, ini jauh lebih penting untuk dikerjakan ; ah, tawaran terbaik takkan pernah datang dua kali, jadi mainnya lain kali saja ; ah, time is money! (hlm 206)
Ulasan-ulasan perihal perilaku manusia kekinian dalam buku ini sudah sepantasnya dibaca oleh siapapun, terutama mereka yang dibelenggu kesunyian dan kegersangan batin. Bahasa yang digunakanpun sangat ringan dan memahamkan, hingga enak dikonsumsi siapa pun. Tidak ada yang lebih baik dari pada merenung, untuk merubah laku keseharian kita yang terus menerus menguapkan nilai-nilai kemanusiaan.

*Achmad Ulil Albab

0 komentar: