Selasa, 24 Januari 2017

Surat Kepada Kanjeng Nabi~Emha Ainun Najib
Di negeri kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Anshor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yayasan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, seniman, cendekiawan, dan apa saja.  Yang tak kami punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu. Demikian tulis Kiai Mbeling-julukan budayawan Emha Ainun Nadjib dalam suratnya kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sudah sampai di manakah langkah kita dalam meneladani kiprah Nabi Suci Saw.


Di negeri kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Anshor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yayasan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, seniman, cendekiawan, dan apa saja.

Yang tak kami punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu.

Demikian tulis Kiai Mbeling-julukan budayawan Emha Ainun Nadjib dalam suratnya kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sudah sampai di manakah langkah kita dalam meneladani kiprah Nabi Suci Saw.

diolah dari berbagai sumber
Buku Baru~Imam Nahrawi, Putra Bangkalan di Pojok Senayan
Buku ini hadir mengisahkan masa kecil Imam Nahrawi hingga menjadi menteri. Tokoh muda Nahdlatul Ulma’ ini adalah sosok pemimpin dengan semangat tinggi, dia juga pekerja keras.  Keluhuran pribadi itulah yang mengantarkannya pada kesuksesan. Perjalanan hidupnya terangkum begitu menarik, dengan catatan kegiatan, pemikiran gagasan serta terobosannya di Kementerian Pemuda dan Olahraga.     Disajikan dengan bahasa yang santai, buku baru ini patut menjadi bahan bacaan anda untuk meningkatkan kualitas diri, menjadi pribadi yang sukses.

Buku ini hadir mengisahkan masa kecil Imam Nahrawi hingga menjadi menteri. Tokoh muda Nahdlatul Ulma’ ini adalah sosok pemimpin dengan semangat tinggi, dia juga pekerja keras.

Keluhuran pribadi itulah yang mengantarkannya pada kesuksesan. Perjalanan hidupnya terangkum begitu menarik, dengan catatan kegiatan, pemikiran gagasan serta terobosannya di Kementerian Pemuda dan Olahraga.   

Disajikan dengan bahasa yang santai, buku baru ini patut menjadi bahan bacaan anda untuk meningkatkan kualitas diri, menjadi pribadi yang sukses.

Diolah dari berbagai sumber

Penerbit                   : EXPOSE PUBLIKA
Kode Buku             : EXPP-022
ISBN                          : 9786027829367
Tahun Terbit         : September 2016
Halaman                 : 292 Halaman
Berat                         : 0,26 Kg
Format                     : Soft Cover
Kategori                  : Sejarah, Biografi/Memoar

Harga                       : Rp 60.000   

Jumat, 20 Januari 2017

Baginda Teladan Sepanjang Zaman
Hari ini kita dihadapkan dengan tontonan dagelan yang bisa dibilang menjijikkan. Tabrak sana tabrak sini tak peduli aturan, orang tak lagi punya pegangan. Kira-kira begitu pengamatan saya. Lebih tepatnya hari ini kita selalu dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis multi dimensional yang akut.  Mulai krisis figur pemimpin, hingga krisis kepercayaan diri yang telah lama mengendap dalam pola pikir dan kedalaman hati. Begitu parah krisis yang dihadapi. Akhirnya bangsa ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.
1001kisahteladan.com

Hari ini kita dihadapkan dengan tontonan dagelan yang bisa dibilang menjijikkan. Tabrak sana tabrak sini tak peduli aturan, orang tak lagi punya pegangan. Kira-kira begitu pengamatan saya. Lebih tepatnya hari ini kita selalu dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis multi dimensional yang akut.
Mulai krisis figur pemimpin, hingga krisis kepercayaan diri yang telah lama mengendap dalam pola pikir dan kedalaman hati. Begitu parah krisis yang dihadapi. Akhirnya bangsa ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.
Lihat saja ketika musim pemilu, pilkada dan pemilihan pemimpin lainnya. Akan ada transaksi deal to deal. Suap, sogokan dan serangan fajar mafhum demi melenggangnya seseorang di kursi pimpinan. Masih tak percaya ? lihatlah Kasus jua beli jabatan pemda di Klaten yang menyeret nama Bupati Sri Hartini, belum lama ini. Rakyat disuguhi “keteladanan” yang salah.
Maka jangan heran manakala hari ini kita melihat keanehan yang menghinggapi setiap lini. Apa penyebabnya ? sederhana. Kita kehilangan contoh, kalau kata Ki Hajar Dewantara seharusnya, Ing Ngarsa Sung Tulodho, di depan memberikan contoh (teladan).
Dalam sebuah forum maiyah Tafakur Akhir Zaman (2015), Gus Mus menyentil, kalau kanjeng Nabi memerintahkan Sholat, beliau sudah sholat dulu. Kalau beliau menyuruh menyayangi istri, ramah dengan tetangga dan seterusnya. Beliau terlebih dahulu melakukan. Itu yang jarang kita temukan hari ini, untuk menghindari mengatakan tidak ada. Malah, kata Gus Mus lagi, sekarang itu orang menyuruh ke barat dia sendiri melangkah ke timur. Apa ndak bingung yang disuruh?
Kalau kita cermat membaca sejarah baginda nabi. Menghadapi permasalahan semacam itu, sebagai pimpinan beliau menerapkan strategi yang cukup sederhana, sesuai dengan sabdanya Ibda' Binafsik yang artinya "Mulailah dari diri sendiri (anda)" dan itu sudah dimulai beliau sendiri. Oleh karena itu sebuah perubahan struktural tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya perubahan kultural, dan perubahan kultural tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan individual.
Bisa jadi perubahan individual menjadi titik pokok untuk sebuah perubahan yang lebih besar, perubahan struktural (bangsa). Menjadi bangsa yang beradab dan berbudaya tentunya.
Telaga Keteladanan 
Di tengah kegalauan kehidupan yang demikian menjemukan itu, kita perlu kembali mendalami akhlak mulia dan kearifan sikap nabi. Menyelami telaga keteladanan yang jauh lebih dalam, semisal :  
Tidak memanfaatkan jabatan. Baginda nabi wafat tanpa meninggalkan warisan material. Jabatan sebagai pemimpin bagi baginda, bukanlah cara memperkaya diri. Seperti yang ditampilan sebagian pejabat hari ini. Berderet mobil dan rumah mewah dipajang dengan pongah.
Integritas. Integritas menjadi bagian penting dari kepribadian baginda, yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya dari apapun yang menjadi tujuannya.
Sikap egaliter. Salah satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Nabi, adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba). Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.
Kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan, tantangan serta serta peluang.
Visioner. Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul SAW. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan. Banyak hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata "akan datang suatu masa", lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Sekian abad berlalu, kini banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat nyata.
Terakhir kesederhanaan, kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan Rasul saw.  Tak pernah baginda nabi bermewah.  Ini yang tidak banyak ditampilkan pemimpin hari ini. Pesona akhlak dan sikap baginda yang demikian itu tentunya mampu menjadi cerminan kita hari ini.

Begitu, setelah menyelam dalam telaga keteladanan yang jernih dan menyejukkan itu, pikiran kita akan segar, untuk kembali meniti jalan panjang di dunia yang berliku dan berbatu.
Achmad Ulil Albab

Rabu, 18 Januari 2017

Gus Mus Memandang Pendidikan
Namanya KH Ahmad Mustofa Bisri, orang akrab menyebutnya Gus Mus. Kiai yang juga budayawan ini tak sepakat dengan konsep pendidikan nasional, Ia menyebut pendidikan nasional yang merupakan warisan kolonial Belanda masih sebatas pengajaran, belum melaksanakan pendidikan.
www.sitinjaunews.com


Namanya KH Ahmad Mustofa Bisri, orang akrab menyebutnya Gus Mus. Kiai yang juga budayawan ini tak sepakat dengan konsep pendidikan nasional, Ia menyebut pendidikan nasional yang merupakan warisan kolonial Belanda masih sebatas pengajaran, belum melaksanakan pendidikan.

Menurutnya, mendidik atau melakukan pendidikan, masih terbatas dilakukan atau setidaknya dijumpai di Raudlatul Athfal (RA) atau TK. Sementara di jenjang berikutnya, mulai SD hingga pendidikan tinggi, lebih banyak melakukan pengajaran, dari pada pendidikan.

“Saya melihat, mengamati, dan mencocokkan, pendidikan nasional kita masih sebatas pengajaran, kecuali di RA atau TK. Saya melihat, pendidikan terjadi di RA. Selebihnya, lebih banyak melakukan pengajaran,” ungkap Gus Mus saat memberikan tausiah di acara peresmian gedung RA dan Kelompok Bermain Masyithoh di bilangan Jalan KH Bisri Mustofa Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang, Kamis (1/1/2015). Seperti dilansir dari laman matairradio.com

Konsep tarbiyah
Pendidikan itu lebih pada tarbiyah, sedangkan pengajaran itu lebih bermakna taklim. Makanya tidak heran, karena pengajaran yang diuber, pendidikan menjadi terabaikan.

“Jadi kalau hanya dipintarkan dengan pengajaran, bisa bahaya. Perbanyak mendidik, jangan sekadar memberikan pengajaran atau memberikan informasi. Mereka yang pintar tetapi tidak terdidik, bisa melakukan hal-hal yang justru menyimpang,” tandasnya.

Dia mencontohkan, sejumlah pejabat negara dan daerah yang terlibat dalam kasus korupsi, adalah orang-orang yang bodoh karena mendapat pengajaran hingga di universitas. Tapi tidak mendapatkan proses pendidikan.

Pendidikan seharusnya mengedepankan orientasi pembentukan akhlak, Pendidikan akhlakul karimah sangat penting dalam rangka menyiapkan generasi unggulan.

Pendidikan harus ditekankan untuk membentuk lingkungaan yang mencintai pengetahuan sekaligus mengamalkan ilmu dan akhlakul karimah. Karena sekarang ini kita melihat sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, tetapi prilakunya tidak mencerminkan nilai dan ajaran agama.


"Tidak ada generasi unggul kecuali dengan akhlakul karimah," tandas Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Leteh Rembang dalam kuliah umum di UNISNU Jepara nuonline.com(/7/12)

Minggu, 15 Januari 2017

Menjadikan Ramah Lingkungan Gaya Hidup Kekinian
Istimewa

Judul              : Green Mama ; Memupuk Masa Depan Ramah Lingkungan bagi Si Buah Hati
Penulis          : Manda Aufochs Gillespie
Penerbit        : Metagraf Solo, Tiga Serangkai
Cetakan         : 1, 2015
Tebal             : 280 halaman
ISBN               : 978-602-72110-2-5

Tren ramah lingkungan dewasa ini tidak lagi menjadi hal nyeleneh di kalangan masyarakat luas, melainkan menjadi sebuah keharusan gaya hidup manusia modern yang peduli terhadap keberlangsungan planet bumi.  Di tengah penggunaan sumber daya alam yang berlebih, dan produk-produk yang dapat memproduksi racun dalam jangka waktu tertentu, tentunya akan mengkhawatirkan bagi tumbuh kembang anak-anak dan menjadi ancaman nyata yang berbahaya.

Tidak heran jika sekarang ini banyak bermunculan kasus ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) gangguang pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, autisme, kanker pada anak hingga gangguan kelekatan (attachment disorder). 
Gaya hidup ramah lingkungan tampaknya menjadi pilihan tepat, guna melindungi dan menjadi penyelamat dunia yang sudah tua dan rentan ini. Banyak orang tua, terutama kaum ibu yang tak memiliki ilmu dalam mengasuh anaknya, terutama dalam hal kesehatan. Sangat jarang kaum perempuan dari sebelum ia menikah sudah mempersiapkan ilmu tentang merawat anak. Umumnya kaum wanita baru sibuk belajar setelah dihadapkan dengan masalah. Sehingga akhirnya solusi yang diambil pun bukanlah solusi yang terbaik.  

Buku ini tentunya layak menjadi pegangan wajib, terutama bagi orang tua yang sayang dan peduli terhadap masa depan anaknya, sebab menjadi orang tua yang didamba adalah yang ahli dalam merawat anak-anaknya.  Tidak sedikit dari kita yang  menyadari hal-hal sepele yang sebenarnya itu perlu perhatian khusus. Di zaman sekarang, bayi tidur dalam ruangan yang mungkin paling beracun di seluruh rumah kita. Jika kita menata ulang ruangan kecil, kamar cadangan, atau membuat kamar tambahan boks bayi baru, meja tempat mengganti popok, cat tembok, karpet, tirai yang kita gunakan untuk menciptakan ruangan istimewa itu berpotensi melepaskan zat kimia ke udara. (Hlm.34)

Berbagi tips
Tidak hanya deretan kalimat-kalimat saja yang disuguhkan sang penulis Manda Aufochs Gillespe yang sangat menyayangi anak-anaknya, namun buku setebal 280 halaman ini menyajikan tips-tips praktis, panduan hingga isnpirasi mama cerdas, seperti halnya menangani cat berbahan timbal. (Hlm. 51)

Bagi ibu yang benar-benar peduli terhadap buah hatinya, Air Susu Ibu (ASI) amatlah berharga hingga tidak menginginkan susu formula terbaik pun untuk masuk ke perut sang bayi. Bermula dari kepedulian seorang bidan Shell Walker terhadap tetangganya yang akan menjalani operasi dan bayinya baru berusia beberapa minggu, sedangkan ibunya tidak menginginkan si bayi mendapat susu formula. Eats on Feets (komunitas ibu yang saling berbagi ASI) menyediakan semacam ajang perjodohan di Facebook untuk ibu-ibu di seluruh belahan dunia. Shell Walker menetapkan empat prinsip utama berbagi ASI yang aman. Antara lain : 1-tentukan pilihan setelah memahami informasi; 2-pilihan donor yang tepat; 3-tanganilah ASI secara aman; dan 4-pasteurisasi ASI di rumah jika diinginkan. (Hlm. 112)  

Menjadi ramah lingkungan yang terpenting diantaranya adalah bagaimana memilih makanan, selera makanan anak akan dibentuk oleh orang tua, dan makanan yang dimakan anak akan membentuk kesehatanya. Meski terlihat rumit, pemikir makanan terkemuka seperti Michael Pollan mengingatkan kita bahwa hanya ada beberapa prinsip sederhana dalam memilih makanan yang baik. Makanlah makanan yang sebenarnya, yakni makanan berbentuk utuh, tidak diproses, dan tidak dikemas, seperti makanan yang dimakan kakek-nenek kita saat mereka masih kecil, yakni telur, mentega, sayuran, kacang-kacangan, dan apel. Jangan terkecoh. Nenek kita tida menyajikan makanan cepat saji yang “sehat”, seperti yogurt kemasan, sarapan instan atau susu berperasa. (Hlm. 134)

Zat-zat kimia sudah terlanjur berbaur dengan setiap aktivitas kita setiap hari, dari perabot rumah tangga, makanan hingga mainan bagi anak-anak kita. Bukan tidak mungkin menjadi warisan bencana bagi generasi selanjutnya. Pemerintah Amerika Serikat mengizinkan tujuh zat kimia baru setiap hari dan lebih dari 85.000 zat kimia telah beredar di pasaran. (Hlm. 169)   semua kembali pada kita, mau mengikuti pasar atau melawan dengan pola ramah lingkungan.

*Achmad Ulil Albab
Merawat Renungan Manusia Kekinian
Istimewa

Judul Buku : Cerita Pilu manusia Kekinian
Penulis         : Edi AH Iyubenu
Penerbit       : Diva Press
Cetakan       : Februari 2016
Tebal             : 264 halaman
ISBN              : 978-602-0806-71-6

Kehidupan dewasa ini telah mencapai titik paling krusial sepanjang zaman, dunia modern terus menyuguhkan rutinitas setiap hari yang hampir menyita hidup manusia kekinian. Jarang dan bahkan tak lagi kita temukan kehangatan antar keluarga, apalagi teman. Bisa dibilang dunia modern telah menomorduakan sisi kemanusiaan manusia dengan segala rutinitas, target, prestasi dan sederet angan yang semu lainya.
Merenung adalah laku memelihara niali-nilai kemanusiaan. Yang hilang dari kehidupan kita ini bukanlah berkurangnya lembaga pendidikan agama maupun umum, ataupun bacaan, tetapi pudarnya permenungan. Semua kita tak sempat kepada hal-hal yang disangka tak memberikan keuntungan materi. Walhasil, hidup jadi hambar, garing, dan pucat. Walhasil, kita pun merasa menderita.(hlm 6)
Buku ini mendedahkan mengenai polah tingkah manusia kekinian, banyak sekali kalimat-kalimat dalam buku ini, yang kebanyakan manusia atau bahkan kita sendiri sadar atau tanpa sadar pernah mengucapkanya. Sangat menarik sebagai bahan evaluasi, bercermin diri setelah sekian lama tak memandang dan menelanjangi diri sendiri. Modernisme-materialisme telah menjadikan manusia sebagai budak-budak spanengan-tegang, ngototan dan lain sebagainya maka hiduplah selo. Kini coba kita hisab : berapa banyak orang yang telah Anda sakiti di masa lalu (ma taqaddama min dzanbihi) dengan nyinyiran, komenan, hingga share-an yang ngotot-spanengan? (hlm 33)
Dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, satu membahas tentang renungan-renungan islami dan di bagian kedua tentang renungan-renungan bersifat umum. Ada yang menarik pada bagian pertama buku ini, yaitu tentang renungan-renungan Islami. Edi AH Iyubenu menyentil keseharian kita, dalam judul Gerakan muslim akun-akunan misalnya. Tidak sedikit sesama muslim hari ini yang saling hujat-menghujat. Bila ia tahunya hijab syar’i adalah yang modelnya harus jubahan macam pakaian orang Arab saja, ia pasti akan ekstrem pada muslimah lain yang tidak sama dengan hijabnya. Lalu disesatin, dikafirin, dll. Padahal, ya, itu hanya sebuah pandangan belaka. (hlm 60)
Kehangatan keluarga
Hidup di kota, tempat segala sesuatu hanya bisa dijangkau dengan uang dan uang, telah memaksa kita untuk terus bergerak dan berlari ngepot. Sudah pasti hal ini membuat hari-hari kita begitu melelahkan. Begitu cepat berkelebat. Bergegas. Tergopoh. Tahu-tahu sudah sebulan, setahun, lima tahun, sedekade ; tahu-tahu telah tua, tahu-tahu anak-anak telah remaja. (hlm 203)
Kehidupan kekinian telah merenggut waktu-waktu kita dengan rutinitas yang menghamba pada satu tujuan, materi. Sehingga tanpa sadar kita pun melewatkan banyak hal. Nalar kita sepenuhnya mafhum bahwa hidup ini amat sepintas. Sangat sekelebat belaka. Ironisnya, kelakuan kita lebih mendekat kepada penundaan dan peniadaan silaturahmi : ah minggu depan juga masih bisa ; ah, ini jauh lebih penting untuk dikerjakan ; ah, tawaran terbaik takkan pernah datang dua kali, jadi mainnya lain kali saja ; ah, time is money! (hlm 206)
Ulasan-ulasan perihal perilaku manusia kekinian dalam buku ini sudah sepantasnya dibaca oleh siapapun, terutama mereka yang dibelenggu kesunyian dan kegersangan batin. Bahasa yang digunakanpun sangat ringan dan memahamkan, hingga enak dikonsumsi siapa pun. Tidak ada yang lebih baik dari pada merenung, untuk merubah laku keseharian kita yang terus menerus menguapkan nilai-nilai kemanusiaan.

*Achmad Ulil Albab

Sabtu, 14 Januari 2017

Suluk Maleman edisi  61~Bukan Bangsa Kemarin Sore

Suluk Maleman

Suluk Maleman kembali hadir. Pengajian simpul maiyah di kawasan Pantura Timur ini sudah masuk edisi ke 61. Kali ini akan mengangkat tema “BUKAN BANGSA KEMARIN SORE”, apa maksudnya? Apakah bangsa yang dimaksud adalah bangsa Nusantara yang memang mempunyai peradaban luhur yang cukup sepuh.

Atau bangsa Indonesia, bangsa yang baru 71 tahun itu? Mari berdiskusi bersama di Rumah Adab Indonesia Mulia Jl. P. Diponegoro 94 Pati .Sabtu, 21 Januari 2017. Pukul 20.00 WIB.
Narasumber : KH. Yusuf Chudlori, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, Sutanto Mendut, Komunitas Lima Gunung. Dan akan dimeriahkan oleh Orkes Puisi Sampak Gusuran.