![]() |
| Sumber : Gresnews.com |
Era Masyarakat Ekonomi Asean memantik
sejumlah dampak, salah satunya adalah terbukanya arus perdagangan barang dan
jasa. Kondisi ini diprediksi akan meningkatkan lalu lintas tenaga kerja asing
untuk datang dan bekerja di Indonesia.
Beberapa hari ini persoalan mengenai
Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Negeri Tirai Bambu menjadi sorotan publik,
persoalan yang semula dianggap isu atau memiliki agenda politik, seolah
terbantahkan. Kini berita-berita soal TKA Tiongkok bahkan menjadi headline
di beberapa media masa nasional.
Kedatangan para tenaga kerja asing ke
Indonesia pun menimbulkan beragam masalah. Mulai dari kesenjangan sosial dengan
pekerja lokal, hingga persoalan izin kerja dan tinggal yang belum dikantongi.
Hal ini tentunya dapat kita lihat dengan
jelas, apa yang terjadi di Morosi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi
Tenggara. Buruh-buruh asing ini kebanyakan adalah tenaga kasar bukan tenaga
ahli. Data yang dikantongi perangkat desa setempat, tercatat 1.913 warga asing
yang bekerja di kawasan industri itu. (Jawa Pos, 2 Januari 2017)
Mereka mayoritas bekerja di proyek smelter
nikel PT. Virtue Dragon Nickel Industry
(VDNI), sebuah proyek penanaman modal asing asal Tiongkok, dengan kucuran dana
sebesar Rp 62 Triliun. Hadirnya tenaga kerja asing sebagai buruh kasar tentunya
menjadi kekhawatiran siapa saja, terlebih negeri ini masih diliputi masalah
pengangguran. Yang mana pos-pos tenaga kasar di berbagai mega proyek itu
harusnya dapat diisi tenaga lokal.
Introspeksi diri
Sebagai mahasiswa, sebelum program Masyarakat
Ekonomi Asean resmi diberlakukan, jauh hari saya bersama teman-teman sudah
pernah membincangkan persoalan ini. Dalam obrolan ringan di sebuah angkringan
malam di pinggiran kota, kami bersendau gurau yang ternyata di kemudian hari
menjadi nyata.
Suatu saat mungkin akan ada serbuan
tenaga kerja asing. Bisa jadi orang Thailand akan buka usaha pangkas rambut,
menyaingi pangkas rambut madura yang sudah melegenda itu, nantinya guru-guru
agama tidak menutup kemungkinan didatangkan dari Malaysia, Brunei bahkan dari
Singapura. Kira-kira begitu kelakar kami waktu itu. Dan hal itu memang terjadi
hari ini, tenaga kasar yang semestinya dapat diisi orang lokal nyatanya kini
diserbu orang-orang Tiongkok.
Mulai dari tukang pasang batu, tukang
angkut potongan besi hingga tukang angkut campuran semen. Meskipun hal itu
nyatanya melanggar aturan, UU Ketenagakerjaan di pasal 42 yang mengatur bahwa
tenaga kerja asing hanya bisa bekerja di Indonesia sebagai tenaga ahli.
Namun kita tak sepenuhnya bisa
menyalahkan keadaan (pemerintah, apalagi perusahaan), karena keadaan demikian
kita (orang pribumi) secara tidak langsung mendukungnya. Banyaknya perusahaan
yang memilih mempekerjaan tenaga kerja asing bukan tanpa alasan, salah satunya
karena etos kerja yang dimiliki TKA asal Tiongkok ini sangat luar biasa, mereka
tak kenal lelah, seperti kerbau tenaganya. Tidak aneh jika di sejumlah mega
proyek banyak yang memilih mempekerjakan TKA dibanding tenaga lokal.
Etos kerja yang baik ini disaksikan pula
oleh tenaga kerja lokal kita, pekerjaan menyusun besi untuk crane
setinggi 90 meter misalnya, pekerja lokal berjumlah sembilan orang
menyelesaikannya dalam waktu 5-7 hari. Sedangkan TKA Tiongkok dengan enam orang
saja mampu menyelesaikannya dalam waktu sehari. Pantas jika sama-sama berada
dalam satu level sebagai tenaga kasar, upah yang diterima berbeda antara TKA
asal Tiongkok dengan tenaga kerja lokal.
Dibanding TKA asing tenaga kerja lokal
kita kalah produktif, ini ironis sekali. Bangsa kita memang benar-benar sedang
terpuruk, tidak hanya teknologi, para ahli, serta pemenuhan kebutuhan pokok
saja yang kita impor, bahkan kuli bangunan saja kita pun harus impor. Ini jelas
sebuah prestasi buruk.
Meskipun secara kasat mata, hadirnya TKA
asal Tiongkok yang tidak sedikit ini mampu menghidupkan denyut nadi ekonomi
masyarakat sekitar melalui kios-kios di sekitar lokasi proyek yang menjamur,
namun ada keprihatinan yang dalam tentang kondisi bangsa ini.
Hari ini tak ada yang bisa kita
unggulkan lagi, di tengah huru-hara seperti ini bangsa kita lebih gemar
mengurusi perbedaan-perbedaan dari pada memperhatikan persoalan bangsa yang
krusial seperti ini.
Serbuan TKA asal Tiongkok ini bisa jadi
tamparan keras bangsa Indonesia untuk segera berkaca, melihat diri sendiri. Lalu
kemudian berbenah secepatnya./
Achmad Ulil Albab

0 komentar: