Sabtu, 14 Januari 2017

Serbuan TKA dan Momentum Introspeksi Diri

Sumber : Gresnews.com

Era Masyarakat Ekonomi Asean memantik sejumlah dampak, salah satunya adalah terbukanya arus perdagangan barang dan jasa. Kondisi ini diprediksi akan meningkatkan lalu lintas tenaga kerja asing untuk datang dan bekerja di Indonesia. 
Beberapa hari ini persoalan mengenai Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Negeri Tirai Bambu menjadi sorotan publik, persoalan yang semula dianggap isu atau memiliki agenda politik, seolah terbantahkan. Kini berita-berita soal TKA Tiongkok bahkan menjadi headline di beberapa media masa nasional.
Kedatangan para tenaga kerja asing ke Indonesia pun menimbulkan beragam masalah. Mulai dari kesenjangan sosial dengan pekerja lokal, hingga persoalan izin kerja dan tinggal yang belum dikantongi.
Hal ini tentunya dapat kita lihat dengan jelas, apa yang terjadi di Morosi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Buruh-buruh asing ini kebanyakan adalah tenaga kasar bukan tenaga ahli. Data yang dikantongi perangkat desa setempat, tercatat 1.913 warga asing yang bekerja di kawasan industri itu. (Jawa Pos, 2 Januari 2017)
Mereka mayoritas bekerja di proyek smelter nikel PT. Virtue Dragon  Nickel Industry (VDNI), sebuah proyek penanaman modal asing asal Tiongkok, dengan kucuran dana sebesar Rp 62 Triliun. Hadirnya tenaga kerja asing sebagai buruh kasar tentunya menjadi kekhawatiran siapa saja, terlebih negeri ini masih diliputi masalah pengangguran. Yang mana pos-pos tenaga kasar di berbagai mega proyek itu harusnya dapat diisi tenaga lokal.
Introspeksi diri
Sebagai mahasiswa, sebelum program Masyarakat Ekonomi Asean resmi diberlakukan, jauh hari saya bersama teman-teman sudah pernah membincangkan persoalan ini. Dalam obrolan ringan di sebuah angkringan malam di pinggiran kota, kami bersendau gurau yang ternyata di kemudian hari menjadi nyata.
Suatu saat mungkin akan ada serbuan tenaga kerja asing. Bisa jadi orang Thailand akan buka usaha pangkas rambut, menyaingi pangkas rambut madura yang sudah melegenda itu, nantinya guru-guru agama tidak menutup kemungkinan didatangkan dari Malaysia, Brunei bahkan dari Singapura. Kira-kira begitu kelakar kami waktu itu. Dan hal itu memang terjadi hari ini, tenaga kasar yang semestinya dapat diisi orang lokal nyatanya kini diserbu orang-orang Tiongkok.
Mulai dari tukang pasang batu, tukang angkut potongan besi hingga tukang angkut campuran semen. Meskipun hal itu nyatanya melanggar aturan, UU Ketenagakerjaan di pasal 42 yang mengatur bahwa tenaga kerja asing hanya bisa bekerja di Indonesia sebagai tenaga ahli.
Namun kita tak sepenuhnya bisa menyalahkan keadaan (pemerintah, apalagi perusahaan), karena keadaan demikian kita (orang pribumi) secara tidak langsung mendukungnya. Banyaknya perusahaan yang memilih mempekerjaan tenaga kerja asing bukan tanpa alasan, salah satunya karena etos kerja yang dimiliki TKA asal Tiongkok ini sangat luar biasa, mereka tak kenal lelah, seperti kerbau tenaganya. Tidak aneh jika di sejumlah mega proyek banyak yang memilih mempekerjakan TKA dibanding tenaga lokal.
Etos kerja yang baik ini disaksikan pula oleh tenaga kerja lokal kita, pekerjaan menyusun besi untuk crane setinggi 90 meter misalnya, pekerja lokal berjumlah sembilan orang menyelesaikannya dalam waktu 5-7 hari. Sedangkan TKA Tiongkok dengan enam orang saja mampu menyelesaikannya dalam waktu sehari. Pantas jika sama-sama berada dalam satu level sebagai tenaga kasar, upah yang diterima berbeda antara TKA asal Tiongkok dengan tenaga kerja lokal.
Dibanding TKA asing tenaga kerja lokal kita kalah produktif, ini ironis sekali. Bangsa kita memang benar-benar sedang terpuruk, tidak hanya teknologi, para ahli, serta pemenuhan kebutuhan pokok saja yang kita impor, bahkan kuli bangunan saja kita pun harus impor. Ini jelas sebuah prestasi buruk.
Meskipun secara kasat mata, hadirnya TKA asal Tiongkok yang tidak sedikit ini mampu menghidupkan denyut nadi ekonomi masyarakat sekitar melalui kios-kios di sekitar lokasi proyek yang menjamur, namun ada keprihatinan yang dalam tentang kondisi bangsa ini.
Hari ini tak ada yang bisa kita unggulkan lagi, di tengah huru-hara seperti ini bangsa kita lebih gemar mengurusi perbedaan-perbedaan dari pada memperhatikan persoalan bangsa yang krusial seperti ini.
Serbuan TKA asal Tiongkok ini bisa jadi tamparan keras bangsa Indonesia untuk segera berkaca, melihat diri sendiri. Lalu kemudian berbenah secepatnya./

Achmad Ulil Albab

0 komentar: